SUARA INDONESIA

Menata Ulang Ekosistem Pendidikan Islam: Memahami Peran PTKN sebagai Penggerak Utama

Jefri Hadi - 25 April 2026 | 15:04 - Dibaca 750 kali
Pendidikan Menata Ulang Ekosistem Pendidikan Islam: Memahami Peran PTKN sebagai Penggerak Utama
Prof. Dr. H. Mohammad Kurjum, M.Ag (Guru Besar & Kandidat Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya). (Foto: istimewa/suaraindonesia.co.id)

Oleh: Prof. Dr. H. Mohammad Kurjum, M.Ag (Guru Besar & Kandidat Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)

SUARA INDONESIA, SURABAYA - Program Sekolah Rakyat yang diluncurkan pemerintah menjadi langkah penting dalam upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, Sabtu (25/4/2026).

Konsep pendidikan gratis berbasis asrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.

Di sisi lain, penguatan madrasah unggulan seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN),

yakni jenjang pendidikan setara SMA di bawah Kementerian Agama, termasuk MAN Insan Cendekia, menunjukkan keseriusan negara menghadirkan pendidikan berkualitas tinggi yang berbasis nilai-nilai keislaman.

Namun, di tengah optimisme tersebut, muncul pertanyaan penting: ke mana para lulusan terbaik ini akan melanjutkan pendidikan? Apakah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) siap menjadi tujuan utama mereka?

PTKIN adalah perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama yang mencakup Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). 

Berbeda dari perguruan tinggi pada umumnya, PTKIN menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman. Tujuannya bukan hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral, etika, dan kepedulian sosial.

Peran ini sangat penting, terutama di tengah berbagai tantangan moral dan sosial saat ini. Namun, kenyataannya PTKIN masih menghadapi sejumlah kendala.

Keterbatasan fasilitas, akses riset, serta dukungan anggaran membuat daya saingnya belum sepenuhnya optimal dibandingkan perguruan tinggi lain.

Karena itu, hadirnya Sekolah Rakyat dan madrasah unggulan seharusnya menjadi momentum untuk menata ulang ekosistem pendidikan Islam secara menyeluruh. Sistem pendidikan tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan keterhubungan yang jelas dari jenjang awal hingga perguruan tinggi.

Salah satu langkah penting adalah membangun sistem penyaluran minat dan bakat sejak dini. Siswa di tingkat Madrasah Tsanawiyah dapat mulai dikenali potensinya, lalu diarahkan di Madrasah Aliyah sesuai minatnya, hingga akhirnya melanjutkan ke PTKIN yang relevan. Dengan cara ini, proses pendidikan menjadi lebih terarah dan efektif.

Di tingkat perguruan tinggi, PTKIN juga perlu menghadirkan sistem yang fleksibel, seperti program percepatan (akselerasi) dan pengakuan capaian pembelajaran (inpassing). Tujuannya adalah menjaga perkembangan potensi siswa agar tidak terhambat oleh sistem yang kaku.

Selain itu, perhatian khusus perlu diberikan kepada lulusan Sekolah Rakyat. Dalam beberapa tahun ke depan, akan muncul lulusan dari latar belakang ekonomi yang sangat terbatas. Mereka membutuhkan akses nyata ke pendidikan tinggi sebagai jalan untuk meningkatkan taraf hidup.

PTKIN harus membuka peluang seluas-luasnya, tidak hanya melalui beasiswa, tetapi juga dengan menyediakan program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dalam hal ini, pendidikan vokasi menjadi sangat penting.

Pendidikan vokasi bukanlah pilihan kedua. Justru, vokasi adalah cara efektif untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap langsung bekerja. Beberapa bidang yang memiliki peluang besar antara lain industri halal, keuangan syariah, pengelolaan zakat digital, dakwah digital, pariwisata halal, hingga pendidikan anak usia dini berbasis keislaman.

Namun, membuka akses saja tidak cukup. Perlu ada kebijakan afirmatif, seperti kuota khusus bagi lulusan Sekolah Rakyat di PTKIN, disertai pendampingan akademik dan sosial.

Pendampingan berjenjang itu penting, agar mahasiswa mampu beradaptasi dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik.

Di sisi lain, PTKIN juga perlu memperkuat peran sebagai pusat riset dan inovasi. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai penghasil solusi bagi berbagai persoalan masyarakat, termasuk kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang pendidikan, tetapi tentang masa depan bangsa. Apakah kita ingin mencetak generasi yang hanya pintar, atau juga generasi yang berkarakter dan peduli terhadap sesama?

PTKIN memiliki keunggulan untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan nilai keagamaan, PTKIN dapat melahirkan generasi yang utuh, cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, PTKIN tidak lagi berada di pinggiran, melainkan menjadi pusat perubahan. Dari sinilah akan lahir generasi yang tidak hanya mampu keluar dari kemiskinan, tetapi juga mampu membawa perubahan bagi masyarakat.

Itulah tujuan utama pendidikan; membangun manusia yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Jefri Hadi
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV