SUARA INDONESIA

Harga Sejumlah Bahan Pokok di Pasar Tradisional Cilacap Alami Kenaikan

Satria Galih Saputra - 09 February 2023 | 00:02 - Dibaca 1.62k kali
Peristiwa Daerah Harga Sejumlah Bahan Pokok di Pasar Tradisional Cilacap Alami Kenaikan
Ayi, Salah Seorang Pedagang di Pasar Gede, Cilacap (Foto : Galih/suaraindonesia.co.id)

CILACAP - Harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah terpantau mengalami kenaikan harga. Seperti yang terjadi di Pasar Gede, Cilacap. 

Sejumlah kebutuhan bahan pokok tersebut meliputi bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai merah dan telur. 

Salah seorang pedagang di Pasar Gede, Cilacap, Ayi mengatakan, kenaikan harga bahan pokok di pasar sudah terjadi sejak 4 hari terakhir. 

"Naiknya sudah mau 4 harian. Harga bawang merah sekarang Rp 45 ribu per kilogramnya, sebelumnya Rp 35 ribu. Bawang putih yang apel kemarin Rp 18 ribu per kilogramnya, sekarang sudah Rp 25 ribu," ungkapnya kepada suaraindonesia.co.id, Rabu (8/2/2023). 

Adapun bawang kating naik dari Rp 25 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Kemudian cabai kriting semula Rp 30 ribu naik Rp 42 ribu per kilogram dan cabai merah dari Rp 20 ribu naik menjadi Rp 30 ribu per kilogram. 

"Kalau cabai rawit hari ini harganya Rp 55 ribu per kilogramnya, kemarin Rp 50 ribu. Telor kemarin saya jual Rp 26 ribu sekarang Rp 28 per kilogramnya, naiknya kurang tau karena apa, pokoknya setelah tahun baru pada naik semua," katanya. 

Ia menambahkan, kenaikan juga terjadi pada gula pasir dan minyak goreng. 

"Gula pasir ya naik, tadinya per sak nya cuma Rp 600 ribu, sekarang naik Rp 635 ribu," ucap Ayi. 

Kendati demikian, ia tidak menaikan harga jual gula pasir di pasar. 

"Saya beli ke distributornya naik, tapi jualnya masih biasa Rp 10 ribu per kilonya. Gimana ya, kalau pembeli belum bener-bener ngerti naik kan kita susah jualnya. Jadi kita ngimbangi dulu lah," ujarnya.  

Sementara itu, minyak goreng merk Kita ia jual saat ini Rp 15 ribu per liternya. Hal itu dikarenakan harga dari distributor naik dari biasanya. 

"Minyak goreng merk Kita di labelnya masih Rp 14 ribu per liternya, tapi distributor jualnya Rp 14 ribu lebih, jadinya ya saya jual Rp 15 ribu. Kalau harga minyak dinaikan lebelnya harus diganti. Untuk stok ada tapi nggak banyak," ucap Ayi. 

Adapun minyak goreng merk lainnya seperti Sovia dan Sania yang ia jual Rp 35 ribu per liternya. 

"Dari distributornya aja harganya sudah Rp 30 ribu lebih, saya jualnya Rp 35 ribu. Saya ambil untung cuma Rp 2 ribu," terangnya. 

Lebih lanjut, akibat kenaikan kebutuhan bahan pokok tersebut, ia mengaku berdampak terhadap penjualan saat ini karena sepinya pembeli. 

"Sekarang sepi pembeli, biasanya siang masih ramai, sekarang jam 10 aja sudah sepi, kalau sudah siang sekarang banyak yang sudah pada pulang, pada tutup cepet nggak kaya biasanya. Kalau saya sih jualannya tetep biasa, sampai jam 5 sore," tuturnya. 

Ia berharap pemerintah segera menurunkan harga bahan pokok agar pedagang tidak lagi merugi. 

"Harapannya harganya kalau bisa turun lah, jangan naik. Kalau pada naik tapi pembelinya masih banyak sih nggak terlalu bingung, tapi kalau kaya gini ya kita jadi bingung jualnya, belum yang beli," pungkas Ayi. 

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Satria Galih Saputra
Editor : Satria Galih Saputra

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV