SUARA INDONESIA

Pasca Dilantik, Presiden IKMPB UIN KHAS Jember Tegaskan jadi Mitra Kritis Pemkab Bondowoso

Muhammad Nurul Yaqin - 24 April 2022 | 04:04
Komunitas Pasca Dilantik, Presiden IKMPB UIN KHAS Jember Tegaskan jadi Mitra Kritis Pemkab Bondowoso

BONDOWOSO - Dyah Riska Adelia Presiden Ikatan Keluarga Mahasiswa Pergerakan Bondowoso (IKMPB) Universitas Islam Negeri KH Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember menegaskan posisi organisasinya saat ini menjadi mitra kritis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso.

Hal itu disampaikan Dyah Riska Adelia pasca dilantik bersama pengurus IKMPB yang lain di ruang rapat paripurna DPRD Bondowoso, Sabtu (23/4/2022).

Labuh lanjut, Dyah Riska menjelaskan, IKMPB adalah Ikatan Keluarga Mahasiswa Pergerakan Bondowoso.

" IKMPB ini merupakan organisasi kedaerahan yang mempunyai cita-cita luhur dalam mengawal, memperjuangkan dan memajukan masyarakat kabupaten Bondowoso baik dalam ranah Pendidikan, Ekonomi, Politik, Hukum, Sosial dan Budaya," jelasnya saat sambutan.

Dijelaskannya, sekelumit latar belakang lahirnya IKMPB, pada waktu itu di Tahun 1980-an, kondisi mahasiswa asli tanah kelahiran Bondowoso yang menempuh kuliah di perguruan tinggi di Jember mengalami sebuah keprihatinan, karena melihat situasi dan kondisi sosial Kabupaten Bondowoso yang tidak menentu, baik di ranah pendidikan, politik, ekonomi dan hukum.

" Itu terjadi seiring dengan dampak kondisi Pemerintahan Indonesia yang carut marut oleh gejolak politik di era orde baru," imbuhnya.


Dyah Riska menerangkan, IKMPB lahir mempunyai cita-cita luhur dan mulia untuk Bondowoso, yakni untuk mempersiapkan kader-kader Bondowoso, baik secara intelektual, emosional maupun spiritual dan juga terciptanya kader yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap kota Bondowoso.

Presiden IKMPB seorang aktivis perempuan ini menegaskan, sebagai aktivis mahasiswa yang mempunyai fungsi agen kontrol, agen sosial dan agen perubahan, maka IKMPB UIN KHAS Jember sebagai organisasi kedaerahan juga akan menjadi penyeimbang Pemerintah Daerah (Pemda) Bondowoso agara kebijakan yang dibuat pemerintah benar-benar berpihak pada rakyat.

Dyah Riska mengatakan, sikap IKMPB kedepan jelas, sebagai aktivis mahasiswa akan selalu mengkritisi kebijakan-kebijakan Pemkab Bondowoso, jika kebijakan itu tidak berpihak kepada rakyat.

" Telah kami dengar dan ketahui, banyak persoalan-persoalan yang terjadi di tanah kelahiran kami Bondowoso yang harus segera dituntaskan oleh Pemkab Bondowoso," katanya.

Misalnya, soal pertanian, carut marutnya pendistribusian dan tata kelola pupuk subsidi di Bondowoso yang setiap tahun selalu terjadi.

Kata Dyah Riska, banyak petani di Bondowoso mengalami persoalan-persoalan dalam proses mengelola pertanian, seperti terkadang susah mendapatkan dan mahalnya pupuk bersubsidi.

" Bidang infrastruktur misalnya. Saat ini banyak jalan yang rusak, yang itu hampir terjadi di setiap pelosok desa dan kecamatan di Bondowoso," imbuhnya.

Menurut Dyah Riska, persoalan persoalan itu harus juga segera dituntaskan oleh Pemkab Bondowoso, sebab jalan itu sangat berdampak sekali terhadap hajat orang banyak, baik dari segi sosial ekonomi, pendidikan dan aktivitas lainnya.

" Tentunya kami juga sebagai mahasiswa mendukung terhadap program-program pemerintah untuk membangun dan memajukan Bondowoso, tentunya dengan cara kami aktivis mahasiswa," imbuhnya.

Dia juga menuturkan, setiap ada ivent di Jember, yang berkaitan dengan kebudayaan IKMPB selalu terlibat aktif membawa kesenian tradisional daerah.

" Kami juga sering tampil kalau ada acara di Jember membawa kesenian yang lahir dari produk budaya khas Bondowoso, seperti singo ulung dan tari petik kopi. Tujuan kami juga mempromosikan budaya-budaya khas Bondowoso," ujarnya.

Pemkab Bondowoso juga harus hadir mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi, berkaitan dengan persoalan yang menyangkut hajat orang banyak, salah satunya seperti persoalan minyak goreng ini.

" Pemerintah harus menjamin kestabilan harga bahan-bahan pokok, khusus di Bondowoso menjelang hari raya idul Fitri tahun ini," tutupnya.

Selain itu, Afnas Fahrurrozi pembina IKMPB menambahkan, IKMPB hari ini berhasil menciptakan momen dan sejarah manis karena Presiden IKMPB dipimpin oleh seorang perempuan.

“ Ini merupakan sejarah baru bagi IKMPB dan setelah ini wajib bagi pengurus untuk bisa membantu permasalahan yang ada baik internal maupun eksternal karena sejatinya menjadi pengurus adalah pesuruh dalam organisasi,” tuturnya.

Pelantikan yang digelar dihadiri senior IKMPB A. Mansur SH, alumni yang jadi Anggota DPRD Bondowoso, Bahtiar Rifa'i senior IKMPB yang menjadi dosen STAI At Taqwa dan merupakan Tim Ahli DPRD Bondowoso, Asisten I Pemkab Bondowoso, dan Kasat Intel Polres Bondowoso.

Hadir pula undangan dari organisasi kepemudaan yang lain, IPNU-IPPNU, Komunitas Sedulur Pati, Bolosewu, dan Orda mahasiswa kabupaten lain. Tidak kurang dari 200 orang kader IKMPB juga hadir di acara pelantikan itu.

Pada tahun 2022 ini IKMPB Universitas Islam Negeri KH Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember menorehkan sejarah baru. Sebab sejak dibentuk pada tahun 1984, ketuanya adalah seorang kader laki-laki.

Namun pada tahun 2022 ada sosok perempuan yang maju dan terpilih menjadi Ketua IKMPB masa bakti 2022-2023.

Spesialnya lagi, kepengurusan dengan Ketua bernama lengkap Dyah Riska Adelia ini, dilantik di Gedung DPRD Bondowoso.***


Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Imam Hairon

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya