SUARA INDONESIA

Menuju Mandiri Energi, Puluhan Warga di Banyuwangi Beralih dari Elpiji ke Biogas

Muhammad Nurul Yaqin - 29 August 2023 | 15:08 - Dibaca 1.96k kali
News Menuju Mandiri Energi, Puluhan Warga di Banyuwangi Beralih dari Elpiji ke Biogas
Agus Romadhon (45), warga Dusun Timurejo, Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, terlihat serius mengolah kotoran sapi menjadi biogas. (Foto: Muhammad Nurul Yaqin/suaraindonesia.co.id).

BANYUWANGI, Suaraindonesia.co.id - Banyuwangi tengah bersiap menuju mandiri energi sebagai ikhtiar mendorong ketersediaan energi di masa depan. Puluhan warga di ujung timur Pulau Jawa ini mulai mengawali beralih dari elpiji ke biogas berkelanjutan sebagai solusi energi alternatif.

Penggunaan biogas yang rata-rata dikembangkan dari kotoran ternak sapi itu tersebar di beberapa kecamatan yang ada di Banyuwangi. Data yang dihimpun suaraindonesia.co.id, seperti di Kecamatan Pesanggaran, ada sekitar 10 rumah tangga yang telah menerapkan cara kerja biogas. 

Teknologi ini terbukti mampu menghemat pengeluaran para penggunanya sekitar 50 persen per hari. Seperti yang dirasakan Seger (53), warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. 

"Sejak menggunakan biogas, bisa berhemat. Biasanya 3 tabung elpiji habis selama sebulan. Sekarang hanya satu tabung saja," ujar warga yang setiap hari jualan aneka lauk di pasar ini.

Ia mengaku telah memanfaatkan kotoran sapi menjadi biogas sejak 2022. Berawal dari kekesalan dimana limbah kotoran sapi yang menumpuk, dan tidak termanfaatkan dengan baik.

"Biasanya kotoran sapi itu hanya ditumpuk di samping kandang, setelah agak kering lalu dibuang ke sawah untuk pupuk. Terkadang juga dipendam di tanah, karena tidak terkendali," ujar Seger.

Keresahan Seger mereda setelah ada Non-Governmental Organization (NGO) yang menawarkan program pembangunan instalasi biogas di rumahnya. Saat itu Seger langsung mengiyakan, sejumlah sarana dan instalasi sepenuhnya dibantu NGO. 

Mulai dari tempat untuk pengolahan kotoran, pipa paralon, hingga tangki fermentasi. "Pembangunan biogas seluruhnya dibantu dari Greeneration Foundation dan Yayasan Rumah Energi," ungkapnya.

Seger menerangkan, takaran dalam proses pembuatannya kurang lebih membutuhkan 3 kilogram kotoran sapi, menyesuaikan kapasitas daya tampungan. Setelah itu, kotoran sapi dicampur dengan 2 timba berisi air atau sekitar 6 liter air kemudian diaduk sampai halus, lalu dimasukkan ke tangki fermentasi.

"Takarannya 1 banding 2. Satu itu untuk kotoran sapi dan dua untuk airnya. Memang awal-awal mendirikan biogas tidak langsung keluar gas. Prosesnya itu sekitar seminggu. Tapi sekarang sudah bisa digunakan setiap hari," tukasnya.

Gas yang dihasilkan dari teknologi biogas ini, tambah Seger, tak kalah jika dibandingkan dengan api dari gas elpiji. Nyala api lebih terang dengan warna dominan biru keunguan. "Dalam sekali proses produksi, api bisa bertahan kurang lebih 3 jam. Pagi itu 3 jam, terus dibiarkan dan sorenya bisa dipakai lagi, durasinya juga kurang lebih 3 jam," cetusnya.

Bergeser ke wilayah lain yakni di Kecamatan Blimbingsari, sejumlah warga juga telah terbiasa menggunakan biogas. Machfud (51), warga Desa Bomo, kecamatan setempat mengaku biogas menjadi solusi saat elpiji di Banyuwangi sempat mengalami kelangkaan beberapa bulan terakhir.

Disaat yang lain kebingungan mencari gas elpiji dan kesulitan untuk memasak, Machfud justru tidak terdampak. Dapurnya masih tetap 'ngebul' berkat adanya biogas. Sebanyak tiga ekor sapi yang dimiliki, kotorannya dimanfaatkan secara baik. Kotoran sapi tersebut dibuat biogas dan cukup untuk digunakan masak sehari-hari.

"Sebelum pakai biogas, elpiji enam hari gitu habis. Sekarang pakai biogas bisa lebih awet sampai dua minggu. Memang biogas ini masih jadi pendamping elpiji, akan tetapi sejak pakai biogas sudah bisa berhemat hingga 50 persen," ungkapnya.

Mastur (78), warga Desa Desa Sraten, Kecamatan Cluring, turut merasakan dampak dari penggunaan biogas. Meski baru sebulan menerapkan, kompor yang dimilikinya sudah bisa tersambung dengan instalasi biogas dan tentu saja bisa menyala. "Setiap hari selalu diisi 25 kilogram kotoran sapi dan bisa membuat kompor menyala hingga 2 jam," akunya.

Mereka bisa menggunakan biogas berkat bantuan dari Emvitrust Indonesia. Sebelumnya warga sudah diberi pelatihan tentang bagaimana cara menggunakannya. Cara kerjanya sama seperti yang ada di wilayah Kecamatan Pesanggaran. Sejauh ini, Emvitrust telah menyalurkan 20 instalasi biogas di Banyuwangi. Upaya tersebut dibantu oleh Greeneration Foundation dan juga Coca Cola Foundation.

Senada dikatakan Agus Romadhon (45), warga Dusun Timurejo, Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi. Meski baru tiga bulan menggunakan biogas, ia juga mendapatkan manfaat positif dari teknologi energi baru terbarukan (EBT) tersebut.

Agus menyebut, dirinya memiliki 9 ekor sapi di rumahnya. Semua kohe atau kotoran dari sapi-sapinya, seluruhnya diolah untuk biogas. Dengan biogas ia bisa menghemat 10 tabung elpiji setiap bulannya. "Biogas di rumah saya itu bisa digunakan kurang lebih satu bulan. Adanya biogas ini bisa menghemat biaya dapur," ungkapnya.

Sehari-hari Agus dan istrinya memiliki usaha aneka gorengan. Jika sebelum menggunakan biogas, satu tabung gas elpiji habis dalam tiga hari. Namun, berbeda setelah menggunakan biogas, pengeluaran untuk biaya beli gas elpiji justru bisa ditekan seminimal mungkin.

"Sejak pakai biogas lebih hemat ya. Jika sebulan bisa berhemat 10 tabung dengan harga sekarang di pasaran Rp 16 ribu per tabungnya. Jadi bisa mengurangi pengeluaran sekitar Rp 160 ribu," ucap dia, Selasa (29/08/2023).

Agus mengatakan, edukasi biogas di rumahnya dibantu oleh Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi). Selain dirinya, saat ini sudah ada beberapa warga yang turut menggunakan biogas, beberapa warga lainnya juga dalam tahap belajar.

"Awalnya dari saya, tetangga mulai belajar juga. Ada yang mulai berjalan dan tahap belajar. Adanya biogas ini banyak tetangga yang tertarik untuk meniru seperti saya. Karena memang banyak manfaat dari biogas ini. Apalagi ampas dari kotoran yang telah difermentasi bisa digunakan lagi untuk pupuk," akunya.

Dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM, pemanfaatan dan pengolahan limbah organik menjadi biogas merupakan salah energi alternatif yang dapat mendukung pencapaian bauran energi baru dan terbarukan sebesar 23 persen di 2025. 

Salah satu program yang diinisiasi oleh Kementerian ESDM dan Hivos (organisasi pembangunan non-pemerintah Belanda) yaitu melalui program Biogas Rumah (BIRU), telah berhasil membangun 25.157 unit biodigester dan lebih dari 119 ribu orang telah merasakan manfaatnya. Sejak diluncurkan 2009, program ini diharapkan akan terus berjalan menuju target 1 juta Biodigester.

Penerapan biogas secara massal dapat mendukung rencana Pemerintah RI dalam menekan angka impor elpiji ke depan, mengingat tingginya impor elpiji di Indonesia sepanjang tahun 2022 yang mencapai 6,7 juta ton atau setara 82% dari total volume elpiji yang dikonsumsi masyarakat Indonesia pada tahun yang sama.

"Setelah berjalan 10 tahun, diharapkan program biogas ini akan dikembangkan lebih baik, akan direvisi lagi programnya dengan menyusun roadmap, akan digali peluang termasuk dari APBN, akan diusulkan ada dana alokasi khusus untuk pengembangan program ini," kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Dadan Kusdiana.

Biogas merupakan gas yang dihasilkan melalui aktivitas anaerobik yang mendegradasi bahan-bahan organik, seperti kotoran, limbah domestik rumah tangga, limbah pertanian, maupun limbah peternakan. 

Kandungan utama dalam proses biogas adalah metana yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan memasak dan konversi menjadi listrik. Pemerintah memandang peran biogas kian penting karena mampu mendukung substitusi energi fosil dengan mengganti elpiji untuk kebutuhan memasak dan penerangan.

"Dengan semakin meningkatnya pemanfaatan biogas untuk rumah tangga dan UKM, biogas diharapkan dapat membantu program pemerintah dalam mengurangi impor elpiji. Dalam skala lebih besar, biogas dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik dengan tarif yang cukup terjangkau," tutur Dadan Kusdiana.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Muhammad Nurul Yaqin
Editor : Lukman Hadi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV