SUARA INDONESIA, BLORA - Sebanyak tiga rumah warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terdampak pergerakan tanah yang diduga dipicu gerusan aliran Sungai Lusi.
Peristiwa tersebut telah berlangsung cukup lama dan hingga kini masih terus terjadi, sehingga menimbulkan kekhawatiran warga akan potensi kerusakan yang lebih parah.
Salah satu warga setempat, Sriyono, mengatakan pergerakan tanah di sekitar permukiman warga sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda berhenti. Ia menduga adanya aliran air di dalam tanah yang menyebabkan penggerusan dari bawah permukaan.
“Pergerakan tanah ini sudah lama terjadi dan sampai sekarang masih terus bergerak. Sepertinya ada aliran air di bawah tanah,” ujarnya di lokasi, Jumat (26/12/2025).
Menurutnya, warga telah berupaya melakukan pengurugan tanah setiap hari untuk menahan laju pergerakan tersebut. Namun, upaya swadaya itu belum membuahkan hasil yang signifikan. “Setiap hari kami urug, tapi kondisinya tetap saja,” katanya.
Warga lainnya, Janarto, mengungkapkan bahwa sebelumnya pernah dilakukan pengeboran tanah hingga kedalaman sekitar 16 meter untuk mencari sumber air bersih. Namun, air yang sempat ditemukan kemudian menghilang. Kondisi tersebut semakin menguatkan dugaan adanya aliran air atau sungai bawah tanah di lokasi tersebut.
Ia menjelaskan, tanah yang terdampak berada pada kedalaman sekitar 1,5 meter dari permukaan. Sementara panjang area tanah yang tergerus diperkirakan mencapai sekitar 200 meter dan lokasinya tidak jauh dari aliran Sungai Lusi.
“Tanah di sekitar rumah saya ambles sekitar dua sentimeter setiap hari,” katanya.
Akibat pergerakan tanah tersebut, bangunan rumah Janarto mengalami kerusakan cukup parah. Sejumlah bagian rumah mengalami retak dan pergeseran struktur.
“Tembok rumah jebol dan terpaksa ditutupi terpal. Lantai di dalam rumah pecah dan retak, bahkan pondasi serta tiang soko depan dan belakang rumah bergeser dengan kedalaman lebih dari 20 sentimeter,” ujarnya.
Warga terdampak lainnya, Sahid, mengatakan bahwa untuk mencegah kerusakan semakin parah, Janarto mengaku melakukan penanganan sementara dengan memanfaatkan kayu bekas sebagai penyangga pondasi agar posisi tiang tetap sejajar.
Sahid menambahkan, saat ini terdapat tiga rumah warga di sekitar lokasi yang terdampak langsung dan berpotensi mengalami kerusakan lebih parah apabila tidak segera dilakukan penanganan.
Warga berharap pemerintah desa serta instansi terkait segera melakukan peninjauan lapangan dan kajian teknis untuk memastikan penyebab pergerakan tanah sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat dan berkelanjutan.
Dinas PUPR Kabupaten Blora telah menerima informasi awal terkait pergerakan tanah yang berdampak pada tiga rumah warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo. Informasi tersebut telah dikoordinasikan dengan BPBD Kabupaten Blora serta disampaikan kepada BBWS Pemali Juana sebagai bahan koordinasi lanjutan.
Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Blora, Surat, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan resmi tertulis dari pemerintah desa setempat. Oleh karena itu, Dinas PUPR mendorong pemerintah desa untuk segera menyusun dan menyampaikan laporan resmi kepada BPBD dengan tembusan ke Dinas PUPR.
Apabila laporan resmi telah diterima, Dinas PUPR Blora akan melakukan pengecekan lapangan guna memastikan kondisi di lokasi terdampak. Penanganan ke depan direncanakan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan skala prioritas serta ketersediaan anggaran, dengan harapan lokasi tersebut dapat masuk dalam penanganan prioritas pada tahun anggaran berikutnya.
"Sebelumnya, Dinas PUPR Blora bersama BPBD dan BBWS telah melakukan langkah mitigasi awal dan penanganan sementara di wilayah tersebut sebagai upaya mengurangi risiko dampak yang lebih besar," imbuhnya. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Team Work |
| Editor | : Mahrus Sholih |
Komentar & Reaksi