SUARA INDONESIA, SURABAYA -Penurunan prestasi cabang olahraga menembak Jawa Timur dalam beberapa edisi Pekan Olahraga Nasional (PON) menjadi alarm serius bagi Perbakin Jatim. Setelah pernah meraih sembilan medali emas pada PON 2012 di Kalimantan Timur, perolehan emas terus menurun hingga tersisa satu medali.
Kondisi itu kini dijawab melalui konsolidasi organisasi, pemetaan nomor pertandingan, regenerasi atlet dan pelatih, serta penerapan sport science untuk merebut kembali posisi Jawa Timur sebagai kekuatan utama menembak nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Musyawarah Provinsi (Musprov) Perbakin Jawa Timur periode 2026–2030 di Surabaya, Rabu (17/6/2026).
Dalam Musprov itu, menetapkan Wibisono Poespitohadi sebagai ketua umum terpilih secara aklamasi.
Wibisono menegaskan amanah yang diterimanya bukan sekadar jabatan organisasi, melainkan tanggung jawab untuk mengembalikan kejayaan olahraga menembak Jawa Timur.
Menurutnya, provinsi ini memiliki modal besar berupa 38 pengurus kabupaten dan kota yang menjadi basis pembinaan atlet di berbagai daerah.
“Ini bukan kemenangan pribadi. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk membawa Perbakin Jawa Timur kembali berjaya dan menjadi kekuatan utama olahraga menembak nasional,” ujar Wibisono.
Sebagai langkah awal, Perbakin Jatim akan memperluas akses olahraga menembak bagi masyarakat, terutama kalangan pelajar, melalui regulasi yang memungkinkan penggunaan peralatan yang lebih terjangkau sesuai ketentuan organisasi.
Selain itu, sebutnya kompetisi berjenjang dan terstandarisasi akan digelar secara rutin di berbagai daerah sebagai sarana pencarian bakat sekaligus pemetaan kemampuan atlet.
"Perbakin Jatim juga akan menggandeng Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan kalangan akademisi untuk menerapkan pendekatan sport science dalam proses identifikasi, pemantauan, dan pengembangan atlet," ungkap Wibisono.
Menurutnya regenerasi atlet junior berbasis sekolah akan diperkuat agar setiap kabupaten dan kota memiliki sumber atlet muda yang siap dibina menuju level prestasi yang lebih tinggi.
Disebutkannya, Musprov yang dihadiri 33 pengurus kabupaten dan kota tersebut menjadi momentum konsolidasi seluruh elemen organisasi.
Dengan pemetaan nomor yang lebih akurat, kompetisi rutin, regenerasi atlet dan pelatih, serta penerapan sport science, Perbakin Jatim menargetkan tidak hanya kembali menjadi juara nasional, tetapi juga melahirkan atlet-atlet berkelas dunia.
“Jawa Timur memiliki lumbung talenta yang sangat besar. Potensi ini harus dikelola secara terstruktur dan merata agar mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi," tutur Wibisono
Perbakin Jatim menargetkan ke depan bukan hanya kembali menjadi juara nasional, tetapi juga melahirkan atlet-atlet berkelas dunia yang mampu mengharumkan nama Indonesia.
Ketua KONI Jawa Timur, Muhammad Nabil, mengatakan persiapan menuju PON sudah dimulai melalui identifikasi nomor-nomor pertandingan yang akan ditetapkan Pengurus Besar PON. Jawa Timur, kata dia, berupaya mengikuti seluruh nomor yang nantinya resmi dipertandingkan.
“Kami sudah mulai mengidentifikasi nomor-nomor yang akan dipertandingkan. Prinsipnya, Jawa Timur akan berusaha mengikuti seluruh nomor yang ditetapkan PB PON,” katanya.
Nabil menilai Jawa Timur memiliki keuntungan karena masih memiliki waktu persiapan yang cukup panjang. Menurutnya, Perbakin Jatim tidak memulai dari nol karena telah memiliki atlet-atlet berbakat yang aktif mengikuti kejuaraan regional maupun nasional.
Untuk menjaga ritme kompetisi dan mempercepat seleksi atlet, ia mengusulkan sedikitnya empat kejuaraan digelar setiap tahun.
Sementara itu, Ketua Umum Perbakin Jawa Timur periode sebelumnya, Istu Hari Subagio, menilai Musprov kali ini menjadi titik awal perjuangan besar menuju PON di Nusa Tenggara Barat.
Ia mengingatkan bahwa Jawa Timur pernah menjadi kekuatan dominan olahraga menembak nasional dengan raihan sembilan emas, tiga perak, dan satu perunggu pada PON XVIII.
Namun, menurutnya, tren prestasi terus menurun sehingga perlu evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan dan strategi perebutan medali.
Istu menilai peluang Jawa Timur pada PON mendatang justru terbuka lebih lebar karena jumlah cabang dan nomor pertandingan diproyeksikan meningkat dari sekitar 40 menjadi 58 cabang olahraga.
“Bertambahnya cabang dan nomor pertandingan harus dibaca sebagai peluang. Karena itu, strategi kami adalah memetakan nomor-nomor yang paling memungkinkan menghasilkan medali bagi atlet Jawa Timur,” ujarnya.
Ia mengungkapkan hasil evaluasi PON sebelumnya menunjukkan masih terdapat nomor-nomor potensial yang luput dipersiapkan secara optimal.
Pada PON Aceh, misalnya disebut terdapat sekitar 15 nomor emas tertentu yang hanya diikuti empat provinsi, tetapi Jawa Timur gagal memanfaatkan peluang tersebut.
“Kami kecolongan membaca peluang. Padahal, kalau dipersiapkan sejak awal, Jawa Timur memiliki banyak penembak potensial yang mampu bersaing,” kata Istu.
Selain pembinaan atlet, Istu menekankan pentingnya regenerasi pelatih. Tahun lalu Perbakin Jatim mengirim 10 kader pelatih mengikuti pelatihan nasional yang melibatkan instruktur asing guna meningkatkan kualitas pembinaan di daerah.
“Regenerasi harus berjalan di dua sisi, atlet dan pelatih. Sepuluh kader pelatih sudah kami kirim untuk mendapatkan pelatihan langsung dari pelatih-pelatih asing,” ujar Istu.
Ia juga mengungkapkan bahwa pada masa sebelumnya sekitar 70 hingga 80 persen atlet menembak Jawa Timur berasal dari unsur TNI.
"Mendatang, Perbakin ingin memperluas basis pembinaan dengan menjaring lebih banyak atlet sipil melalui kejuaraan berjenjang di daerah," pungkas Istu. (*)
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Jefri Hadi |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi