SUARA INDONESIA

Kisah Inspiratif, Pengusaha Rengginang di Bondowoso Mampu Bertahan di Tengah Pandemi

Bahrullah - 23 May 2021 | 12:05
Peristiwa Daerah Kisah Inspiratif, Pengusaha Rengginang di Bondowoso Mampu Bertahan di Tengah Pandemi

BONDOWOSO - Pandemi Covid-19 membawa dampak secara ekonomi, bahkan ada pengusaha rumahan atau home industri yang sampai gulung tikar. Namun justru beda yang bagi Bapak Afifah pengusaha rengginang di Dusun Lapangan, Desa Sumbersari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Bapak Afifah merupakan pengusaha rengginang yang mampu mempertahankan usahanya di tengah lesunya ekonomi akibat dampak Covid-19 dengan menciptakan citarasa khas rengginang rasa buah.

Jika pada umumnya rengginang terasa asin atau manis. Tetapi di tangan dingin kreatif Bapak Afifah, seorang pelaku usaha sukses di Bondowoso ini, rengginang memiliki rasa buah.

Bapak Afifah merupakan pelaku industri usaha rumahan. Ditemui di kediamannya, dia tengah menjemur rengginang di depan rumahnya.

Saat dilihat, tampak Warna rengginang sudah mencolok karena mulai mengering akibat dijemur di bawah terik matahari. Ada pula yang berwarna merah dan hijau.

Sebenarnya di dusun tempat tinggal Bapak Afifah ada tiga produsen rengginang yang aktif, termasuk milik dirinya. Namun juga ada produsen musiman, yang berproduksi menjelang lebaran saja. Sehingga jelang lebaran, di sepanjang jalan dusun tersebut, banyak rengginang yang dijemur.

Saat ditemui, Bapak Afifah mengaku sudah 10 tahun jadi pengusaha jajanan rengginang. Tetapi sebelumnya, hanya tiga varian yang ia buat, yakni rasa gurih, rasa bawang dan manis.

Namun dalam situasi Pandemi ini kata Afifah, menuntut dirinya untuk mempertahankan usahanya dengan sebuah kreatifitas membuat rengginang dengan cita rasa khas buah.

"Saya berpikir, kok rasanya itu saja. Jadi saya berpikir untuk buat inovasi baru. Akhirnya buat rengginang rasa buah. Mau tampil baru," katanya, Sabtu (21/5/2021).

Dia menjelaskan, ada tiga varian rasa buah untuk saat ini, yaitu rasa melon, stroberi dan durian.

"Varian ini baru kami buat jelang lebaran tahun ini. Baru ada lebaran ini," ungkapnya.

Dalam membuat varian baru ini, pihaknya melakukan percobaan. Sari buah awalnya langsung dicampur dan dimasak dengan bahan utama yakni ketan.

"Tetapi ternyata aroma buahnya menguap saat dimasak. Akhirnya hanya tersisa warna tetapi tak ada aromanya," jelasnya.

Kemudian dia mencampurkan sari buah tanpa harus dimasak. Dicampur saat ketan akan dicetak. "Akhirnya rengginang rasa buah berhasil," imbuhnya.

Setiap bungkus rengginang rasa buah berisi 0,5 kilogram dan dibanderol Rp 12,5 ribu. Sudah ada 15 kilogram yang terjual. 

"Kan masih baru, jadi hanya terjual 15 kilogram. Dalam satu bungkus berisi tiga varian, yakni rasa melon, stroberi dan durian. Baru saya yang bikin varian ini," paparnya.

Dia juga menjelaskan, varian yang selama ini diproduksi adalah rasa bawang, istimewa atau gurih dan varian rasa manis.

Pada hari-hari biasa penjualan tidak menentu. Tetapi rata-rata 15 kilogram kalau ada orang kulakan. Itu pun tidak setiap hari.

"Tetapi menjelang lebaran ini pesanan bisa 30 kilogram atau 60 bungkus. Meningkatkan sekitar 50 persen. Ada yang dijual lagi, ada yang untuk dikonsumsi sendiri oleh masyarakat," paparnya.

Setiap varian harganya berbeda, ada yang Rp 9 ribu, rengginang manis Rp 12 ribu, dan rasa bawang Rp 12,5 ribu per bungkus.

Menurutnya, produksi rengginang bergantung pada cuaca. Kalau panas baru produksi. Tetapi pihaknya tetap produksi meski tak ada pesanan. Namun jelang lebaran produksi meningkat.

"Nanti ditaruh, kan ada pembeli yang ke sini. Termasuk rengginang rasa buah," pungkasnya.

Pewarta : Bahrullah
Editor : Nanang Habibi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV