SUARA INDONESIA

Pemilihan Duta Tari Tuai Kritikan dari Dewan Kesenian Tuban

Achmad Junaidi - 27 May 2021 | 21:05
Peristiwa Daerah Pemilihan Duta Tari Tuai Kritikan dari Dewan Kesenian Tuban

 TUBAN - Pemilihan Duta Tari Kabupaten Tuban tahun 2021 yang dilaksanakan di Wisata Goa Akbar pada tanggal 27 - 28 Mei 2021, menuai kritikan dari Dewan Kesenian Tuban (DKT). 

Meski ajang seni tari tahunan yang saat ini diikuti oleh 81 penari daerah se Kabupaten Tuban ini telah berlangsung sejak 2014 hingga saat ini, namun DKT menyebut bahwa Tuban belum memiliki tari khas.

Dalam sambutannya, Ketua DKT Tuban, Joko Wahono mengatakan, kegiatan ini ibarat musim kemarau ditengah hujan. Sebab, pada masa pandemi semua kegiatan sepi. Terlebih hampir semua aktivitas kesenian mendapatkan larangan.

"Memang masa pandemi menyulitkan kita, tapi bagaimana adanya pandemi ada solusi yang masih bisa beraktivitas. Tentu saya berterimakasih kepada Disparbudpora Tuban yang mengadakan acara ini, tentunya akan menggairahkan lagi aktivitas kesenian di Tuban," ungkap Joko Wahono saat sambutannya. Kamis,(27/05/2021).

Joko sapaan akrabnya juga menambahkan, berlangsungnya kegiatan ini akan memacu generasi muda untuk lebih giat belajar. Akan tetapi, sangat disayangkan, meski setiap tahun digelar ajang seni tari, namun Tuban belum punya tari khas daerah sendiri.

"Saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman daerah lain, apa tari khas Tuban? Tapi jujur saya jawab bahwa sendiri belum pernah tahu. Barangkali dari kebudayaan bisa menjelaskan hal apa yang menjadi ke khasan tari Tuban," imbuhnya. 

Joko Wahono juga sempat menyinggung soal Pendopo Kridho Manunggal Tuban dulu dijadikan pagelaran seni, bahkan sempat dibuat sanggar Setya Pratama. Namun kini menjadi tempat untuk rapat. 

"Jamannya pak Mardi dulu, Pendopo digunakan untuk aktivitas dan kegiatan kemasyarakatan, ada sanggar Setya Pratama, dan pementasannya juga digelar di Pendopo, mestinya kegiatan seni dan budaya akan lebih banyak. Tapi sekarang fungsi Pendopo sudah lain. Semoga bisa difungsikan seperti tahun sebelumnya," tegasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Tuban, Sulistiyadi menjelaskan kenapa Tuban tidak punya tari khas Tuban, karena harus ada kaitannya dengan pengajuan sertivifikasi.

"Harus diuji dulu. Namun, ada yang dari awal sudah teruji yaitu Sandur dan Gemblak. Kalau tari khas Tuban yang belum diverifikasi, termasuk Tari Amoi. Tapi alhmdulilah dapat 3 besar di Provinsi," terang Sulistiyadi.

Selain itu, tari khas Tuban seperti Sang Ratri, Sang Aulia, Brandal Lokajaya, dan Ronggolawe akan di ajukan. Kata Sulistiyadi, tari khas Tuban yang sudah terkenal ada tari Lencir Kuning, Mojo Putri dan yang paling sering dibuat acara ceremonial yaitu Tari Miyang.

"Ini menjadi tantangan besar bagi Kesenian di Tuban. lalu, setelah ini betul-betul di sosialisasikan, sehingga tidak kehilangan dan bisa dipatenkan. Memang tidak semudah yang kita bayangkan," tutur Sulistiyadi.

Kaitannya dengan Pendopo justru memberikan peluang hal-hal kecil, gedung Budaya Loka dihibahkan sehingga dipelihara oleh Disparbudpora. Untuk itu, segala bentuk kegiatan kesenian digratiskan.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Tuban, Sumardi menyampaikan, persoalan dari DKT yang mengatakan tidak ada tari khas Tuban, memang dirinya belum paham. Karena DKT tidak hanya membidangi Seni Tari, tapi semua kesenian baik itu Seni Rupa, Teater maupun pertunjukkan islami.

"Mulai tahun 1994 sudah banyak karya-karya Tuban. Saya sendiri saja lebih dari 20 karya," kata Sumardi.

Mardi juga menceritakan tari khas Tuban banyak seperti yang disebutkan Kadin Disparbudpora termasuk tari Amoi, Nyetri, Gendrasmara, Sekar Gading dan Tari Miyang.

"Saya berharap kesenian di Tuban, tetap eksis dan berani bersaing, itu saja," pungkasnya. (Diah/Nang). 

Pewarta : Achmad Junaidi
Editor : Nanang Habibi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya

Featured SIN TV