SUARA INDONESIA

Doa Sambil Sedekah Kue Serabi, Diyakini Masyarakat Bondowoso Tangkal Covid-19

Bahrullah - 05 July 2021 | 02:07
Peristiwa Daerah Doa Sambil Sedekah Kue Serabi, Diyakini Masyarakat Bondowoso Tangkal Covid-19

BONDOWOSO - Beberapa desa di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, menggelar doa bersama sambil bersedekah dengan kue tradisional serabi yang dilaksanakan di mushola mushola atau masjid masjid.

Ritual itu diyakini oleh masyarakat setempat untuk menangkal virus corona atau Covid-19.

Ritual itu dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Tamanan, Kecamatan Maesan, Kecamatan Pujer dan beberapa kecamatan lain. Namun pelaksanaannya tidak serentak dalam sehari. Ada yang melaksanakan dua hari lalu, kemarin, dan hari ini Minggu (4/6/2021).

Timah (38) Warga Desa Pakuniran, mengatakan, ritual itu sengaja dilaksanakan oleh masyarakat untuk berdoa pada Allah Swt, agar diselamatkan dari Covid-19.

Masih tetap Timah, dalam pelaksanaannya setiap rumah menyediakan serabi dan ketupat sesuai jumlah jiwa dalam rumah tangga tersebut.

"Misalnya seperti di rumah saya ini, kan ada empat orang. Saya, suami dan dua anak saya. Maka harus menyediakan empat ketupat dan empat serabi," ujarnya.

Lebih lanjut, Timah menjelaskan, doa bersama dilaksanakan di mushola dengan membawa kue serabi dan ketupat.

Kata Timah, biasanya yang memimpin doa bersama itu guru ngaji atau tokoh agama setempat.

"Setelah kue serabi dan ketupat di doakan, kemudian disedekahkan ke orang lain," ujarnya.

Dia melanjutkan, kue serabi dan ketupat yang telah didoakan semua harus memakannya.

"Kami yakin, dengan makan serabi dan ketupat yang melalui proses ritual ini, bisa jauh dari penyakit. Tentu dengan izin Allah, kami hanya ikhtiar," paparnya.

Sementara Ahmad Fatah, salah seorang tokoh agama yang diminta berdoa dalam ritual itu, mengatakan, isi ritual tersebut tentu berisi memohon pertolongan kepada Allah agar diselamatkan.

Dia menerangkan, bacaan yang dibaca adalah istighfar, shalawat dan bacaan-bacaan lain. Serta berdoa agar jauh dari segala bahaya terutama wabah penyakit Covid-19.

Soal serabi dan ketupat itu sudah menjadi tradisi sejak dulu. Tetapi itu hanya adat, atau hanya dijadikan perantara.

Sementara dikonfirmasi terpisah mengenai hal tersebut, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengatakan, KH Asy'ari Pasha mengatakan, biasanya memang ada amalan dari orang tertentu.

Menurutnya, hal semacam itu hanya cara atau tingkatan setiap orang atau masyarakat untuk berdoa.

"Itu hanya cara saja. Tetapi memang salah satu upaya untuk menghilangkan wabah itu, harus dengan berdoa," jelasnya.

Terpenting kata dia, diniatkan untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui doa.

"Kita diperintahkan berdoa jika ada wabah. Makanya ada doa tolak bala," jelasnya.

Sementara terkait serabi dan ketupat yang menjadi syarat dalam ritual itu. Menurutnya, jika diniatkan untuk dihadiahkan ke orang lain, maka menjadi amal yang baik.

"Itu bernilai sedekah. Bahkan dalam hadits disebutkan, sedekah dapat mencegah bala (kejadian buruk). Selagi niatnya baik, tidak dilarang. Sebab kita tidak menyembah makanan itu," paparnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Tholabah tersebut juga mengimbau, agar masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan. Yakni 5M (menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun, menggunakan masker, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas).

"Apalagi saat ini yang tertular penyakit terus meningkat. Maka saya menghimbau untuk melakukan protokol kesehatan," imbaunya.

Tentu selain itu kata dia, juga harus memperbanyak istighfar dan berdoa.

"Bertobat, bershalawat. Barangkali dengan begitu doa kita cepat diterima," imbuhnya.

Pihaknya menegaskan, tidak cukup hanya berdoa atau selamatan serabi dan ketupat dalam mencegah Corona. Tak kalah penting, warga Bondowoso harus mengikuti anjuran pemerintah.

"Mari kita saling menjaga satu sama lain," pungkasnya.

Pewarta : Bahrullah
Editor : Nanang Habibi

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya