SUARA INDONESIA,BONDOWOSO– Di lereng Gunung Argopuro, Kabupaten Bondowoso, sebuah desa kecil bernama Binakal tengah menulis kisah perubahan yang inspiratif.
Dahulu hanya dikenal sebagai wilayah agraris berhawa sejuk, kini Binakal menjelma menjadi salah satu sentra penghasil telur bebek dan kuliner khas yang diperhitungkan di Jawa Timur.
Transformasi itu bermula dari sebuah inisiatif sederhana: membangun sistem peternakan bebek yang lebih terstruktur dan produktif.
Dari Tradisi ke Skala Industri
Kepala Desa Baratan, Hasan, menjadi salah satu penggagas utama gerakan ini. Bersama sejumlah kepala desa di Kecamatan Binakal dikawal Camat Binakal, ia membentuk kemitraan antarwilayah yang mencakup pengelolaan pakan, panen telur, hingga distribusi produk secara kolektif.
“Dulu orang beternak bebek seadanya. Sekarang, kami kelola bersama agar hasilnya lebih pasti dan bisa dinikmati banyak orang,” ujar Hasan kepada Kompas.com, Kamis (4/7/2025).
Saat ini, sedikitnya 1.200 ekor bebek dipelihara di wilayah Baratan, Sumber Tengah, dan Bendelan.
Dalam kondisi cuaca optimal, tingkat produksi bisa mencapai 90 persen atau sekitar 1.000 butir telur per hari. Dengan harga pasar Rp2.000 per butir, omzet bulanan bisa tembus Rp50 juta.
Namun, keberhasilan ini tidak datang tanpa tantangan. Stres pada hewan ternak, perubahan cuaca ekstrem, dan ancaman penyakit seperti flu burung menjadi kendala serius.
“Kebersihan kandang dan manajemen pakan menjadi kunci menjaga produktivitas,” ujar Hasan.
Potensi Ekonomi Desa, Dukungan Pemkab
Menurut Hasan, potensi ini dapat menjadi solusi ekonomi desa secara menyeluruh jika mendapat dukungan serius dari pemerintah daerah. Ia berharap model kemitraan desa yang dikembangkan di Binakal bisa dijadikan percontohan bagi daerah lain.
“Ini bukan sekadar beternak. Ini bisa menjadi sektor unggulan desa,” tambahnya.
Kisah Sukardi: Bertahan Lewat 50 Ekor Bebek
Di tengah geliat skala besar, ada kisah sederhana namun menyentuh dari Sukardi, 68 tahun, warga Desa Binakal. Karena faktor usia dan kesehatan, ia kini hanya memelihara 50 ekor bebek di halaman rumahnya.
Setiap hari, ia bisa mengumpulkan hingga 46 butir telur. Dengan harga jual Rp2.000 per butir, omzet hariannya mencapai Rp100.000 dengan biaya pakan sekitar Rp40.000. Artinya, ia mengantongi keuntungan bersih lebih dari Rp50.000 per hari.
“Kalau ada bantuan, saya ingin menambah jumlah bebek,” kata Sukardi lirih.
Kisahnya mencerminkan satu hal: bahkan di usia senja, peluang ekonomi tetap terbuka bagi yang mau berusaha.
Dapur Ungkep Nur Aini: Kuliner Khas Binakal
Potensi Binakal tak hanya di peternakan, tapi juga kuliner. Dari dapur kecil di Dusun Malar, pasangan suami istri Nur Aini dan Ariesta merintis usaha bebek kampung ungkep khas Binakal.
Proses pembuatannya memakan waktu hingga empat jam sampai dua jam perebusan dan dua jam pengungkepan dengan sepuluh jenis rempah lokal. Bebek utuh dijual seharga Rp100.000, sementara satu porsi dibanderol Rp30.000.
“Bumbunya meresap, dagingnya empuk. Ini beda,” puji Hesty, pejabat Kecamatan Binakal, usai mencicipi.
Dengan rasa otentik dan harga terjangkau, produk ini mulai dikenal luas, bahkan mulai merambah pasar digital lewat pesanan daring.
Bukan Sekadar Telur dan Bebek
Kisah Binakal membuktikan bahwa desa bukan lagi sekadar wilayah pinggiran. Dengan kolaborasi, inovasi, dan semangat warga, desa bisa menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang tangguh.
Binakal kini menatap masa depan sebagai salah satu sentra protein hewani dan kuliner khas yang potensial di kawasan Tapal Kuda.
Lebih dari sekadar cerita telur dan bebek, Binakal adalah narasi tentang kemandirian, harga diri, dan harapan yang terus tumbuh dari pinggiran negeri.
» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA
| Pewarta | : Bahrullah |
| Editor | : Alfiana Putri |
Komentar & Reaksi